![]() |
maaf, jika aku tak bisa terus menggandengmu,... |
Kupandangi keajaiban malam ini dari balik jendela kamarku. Sang
rembulan menyapaku dengan senyumnya yang menawan didampingi oleh jutaan bintang
dengan cahyanya yang gemerlap. Sayup-sayup ku dengar lantunan ayat suci yang
menggema, menggetarkan hatiku, dan melemaskan jiwaku.perlahan air mataku jatuh
berlinang membasahi kalbu. Tapi apatah daya??? Aku hanya bisa berharap bunda
tenang di atas sana.
Menikmati keindahan surgawi tanpa ada beban sedikitpun. Tanpa ada seorang anak
yang bandel dan manja sepertiku, yang selalu mengganggu bunda saat bekerja.
“Rev, kok belum tidur?” terdengar
suara ayah yang melangkah perlahan mendekatiku. Aku hanya terdiam.
“sudahlah, nak.jangan bersedih lagi.
Kita adalah ciptaan-NYA dan kita pasti akan kembali kepangkuan-NYA.”
“iya,yah. Reva tahu kok.”
“o…ya Rev, besok kita akan pindah ke
rumah nenekmu. Soal sekolahmu sudah ayah urus.”
Aku hanya
mengaggukkan kepala. Walau sebenarnya sulit meninggalkan kenangan yang ada di
rumah ini, sampai aku berusia 16 tahun seperti saat ini. Tapi aku harus sadar,
roda waktu terus berputar.
“kok diam? Ya sudah ayah sudah
ngantuk.cepat tidur ya.semoga mimpi indah.” Ayah mencium keningku dan berbalik
meninggalkanku.
ku tutup mata rapat-rapat.
Berharap malam ini cepat berlalu.
Adzan subuh menyapa, membangunkanku dan mengajakku untuk segera
menunaikan kewajibanku kepada-NYA. Usai sholat, aku memulai perbincangan dengan
ayah.
“yah,Reva sudah siap kok.kemanapun
ayah membawaku, aku yakin tempat itu adalah yang terbaik untuk menaruh masa
depanku.”
“kalau begitu, segera kemasi
barang-barangmu. Setelah sarapan kita berangkat.”
“ok,yah!”
“senang sekali rasanya bisa melihat ayah tersenyum semanis
ini”kataku dalam hati.
Kami berangkat ke rumah nenek naik bis. Maklumlah ayahku bukan
seorang pengusaha. Tapi aku bangga kepadanya. Dalam keadaan bagaimanapun,ayah
bisa memberikan cinta dan kasih sayangnya padaku, juga bunda. Saat detik-detik
terakhir bunda akan pergi ayah masih memperlihatkan kesetiaannya dan selalu
bisa tersenyum di hadapan bunda.
Tidak terasa bis
sudah sampai di depan rumah nenek. Kami turun dari bis dengan perasaan bangga.
Ketika kuinjakkan kakiku di halaman rumah nenek, beliau menyambutku dengan
senyumnya yang merekah dari bibir tuanya. Namun masih terlihat manis dan
menawan. Entah mengapa kepalaku pusing dan semua yang ada di hadapanku tampak
gelap. Ayah terkejut melihatku tergeletak tak berdaya. Ayah dan nenek membawaku
ke RS. Pelita Jaya, yang kebetulan dekat dari rumah nenek. Ketika aku sadar,
ayah dan nenek terlihat sedih.
“yah, Reva kenapa?”ayah hanya diam
seribu bahasa.
“Reva sayang, jangan sedih, tetap bersemangat
dan tetap tersenyum, ya!” ucap nenek menghibur.
“iya, nek. Sebenarnya Reva kenapa
yah? Kok sedih begitu.”
“kamu menderita kanker otak stadium
3 ,Rev..rajin minum obat ya,supaya kamu bisa lebih lama menemani ayah dan
orang-orang yang kamu cintai.” Kata dokter yang menanganiku.
Aku tak mampu
berkata apapun. Hanya air mata yang menunjukkan isi hatiku.
“Tuhan, kenapa semua ini harus
terjadi padaku.” Gumamku dalam hati.
Fikiranku
melambung. Bagaimana ayah bisa memenuhi kebutuhan obatku. Jika hidupku harus
bergantung pada obat. Sementara ayah belum mendapat pekerjaan di sini.
Dua hari telah berlalu, aku sudah nampak sehat. Ayah membawaku
pulang. Kulihat ayah begitu tegar. Dia memberiku semangat dan harapan untuk
hidup lebih lama. Aku harus bahagiakan ayah.
Senin ,02 April,,,hari
pertamaku di SMA KASIH IBU. Tak sedikitpun gugup kurasa. Ku melangkah pasti
menyongsong masa depan.
“perkenalkan, nama saya Reva Ainal
Syifa. Kalian bisa memanggil saya Reva.” Ku coba memperkenalkan diriku saat jam
pelajaran pertama. Beruntung teman-teman baruku menyambutku dengan ramah.
“hai,aku Via” dia mengulurkan tangan
kepadaku dan akupun menyambutnya dengan segera.
Sang roda waktu terus berputar, mengantarkan aku ke hari-hari yang
lebih baru. Tentunya dengan semangat baru juga. Hari ini, ayahku mendapat
pekerjaan baru sebagai cleaning service di RS.Pelita Jaya,tempatku di rawat
atas tawaran dr. Ervan, dokter yang menanganiku. Ayah sangat senang,akupun
juga.
“semua ini untuk kamu, Rev.ayah tak
ingin kehilangan kamu.” Ayah memelukku, matanya berkaca-kaca. Perih hati ini
mendengar perkataan ayah. Melihat perjuangan dan pengorbanan ayah.
“ayah,terima kasih ya..ayah selalu
menjagaku setelah 2 tahun kepergian bunda. Ayah adalah ayah yang paling
hebat.Reva sayang ayah…”
Aku menangis di
pelukan ayah. Nenek yang baru selesai memasakpun ikut menangis melihat kami.
Dan sejenak semua menjadi hening.
Mentari bersinar cerah…menceriakan hariku. “ayah,nenek Reva
berangkat,,assalamualaikum..”
“waalaikumsalam…hati-hati
di jalan..”
Ku lewati
hamparan padi yang mulai menguning dan berbagai tumbuhan menari gemulai di
terpa angin. Membuatku melupakan semua masalahku.
“hai, Rev bareng yuk.” Ajak Via dan
teman-teman.
“iya, yuk!!” kami bersendau
gurau,,dan tanpa terasa sudah sampai di sekolah.
Jam pertama
adalah pelajaran olah raga. Aku sangat bersemangat. Kami lari-lari kecil
sebagai pemanasan. Tiba-tiba tubuhku lemas dan akupun tak sadarkan diri. Aku
dilarikan ke RS. Pelita Jaya.Via dan Pak henny mendampingiku. Saat aku sadar,
ayah sudah ada di sampingku.
“yah, Reva tidak apa-apa kok” kataku dengan penuh senyum.
“iya, maafkan ayah ya?”
“tidak apa-apa, yah,,,kalaupun maut menjemput Reva,ikhlaskan saja
ya, yah! Reva akan hadapi dengan senyuman dan ketabahan.” Kataku meyakinkan
ayah.
Ayah hanya terdiam. Aku tak tahan melihat ayah harus bekerja keras
untuk kehidupanku yang tinggal di ujung waktu. Aku tak perlu menjalani
pengobatan itu lagi. Aku akan terobosi celah-celah kehidupanku yang tinggal
sebentar. Kan
ku hadapi dengan senyuman, agar ku tak merasa kesakitan. Biarlah penyakit ini
menggerogoti diriku sampai aku ke sana,
di suatu tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ya,,,di luar kehidupanku.
Ku tak tega melihat orang-orang yang aku cintai. Tapi aku selalu senyum pada
mereka. Entah sampai kapan aku seperti ini. Ku tutup mata rapat-rapat. Aku
tidak takut jika aku tidak bisa membukanya kembali. Aku yakin bunda sudah
menuungguku di atas sana.
Ku lihat batas kehidupanku yang sudah terlintas dengan hati berdebar dan kan ku hadapi dengan
senyuman. Maafkan, Reva ayah…..!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar